Klaten - Bripda Imam Gilang Adinata menjadi korban dalam peristiwa bom bunuh diri di Kampung Melayu, Jakarta Timur. Kabar duka tersebut sempat membuat keluarga di kampung halamannya, Srago Gede, Mojayan, Klaten Tengah, seakan tak percaya.
Paman Bripda Imam, Rohmat Sugiarto, menceritakan keponakannya baru lima hari lalu pulang kampung. Ia tak menyangka hari itu adalah hari terakhir ia bertemu Gilang, panggilan Rohmat kepada Bripda Imam.
"Baru lima hari yang lalu pulang. Memang Gilang sering pulang kalau ada libur. Biasanya kalau pulang itu semangat, sering main sama teman-temannya. Tapi kemarin itu dia seperti tidak bersemangat. Dia lebih sering di rumah saja," kata Rohmat, Kamis (25/5/2017).
Gugurnya Gilang meninggalkan duka mendalam bagi Rohmat beserta keluarganya. Sebab, sejak kecil, Gilang tinggal di rumah nenek bersama pamannya.
Gilang baru tinggal serumah dengan orang tuanya sejak sekitar lima tahun yang lalu, yakni ketika dia bertugas sebagai polisi di Jakarta.
"Dia kalau panggil saya itu 'Mas', karena dia memang dekat sekali sama saya. Saya anggep dia adik bisa, anak juga bisa," ujar dia.
Bripda Imam Gilang Adinata meninggal dalam usia 25 tahun. Ia meninggalkan ayah Sri Sarjono, ibu Ening Wiyati dan seorang adik perempuan Atika Nur Ismalia. Jenazah akan dimakamkan di pemakaman Gedong, Srago Gede, Mojayan, Klaten Tengah, sekitar 50 meter dari rumah duka. Pangkatnya dinaikkan jadi Briptu Anumerta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar