Tapa pepe adalah aksi protes yang dilakukan oleh masyarakat tradisional Jawa di masa lampau. Aksi itu berupa aksi massa yang berkumpul dan berjemur di tengah alun-alun keraton untuk mendapat perhatian dari raja.
Tapa pepe kali ini diikuti oleh puluhan warga dari berbagai elemen, digelar di Alun-ulun Utara Yogyakarta, Rabu (26/4/2017). Dalam aksinya warga duduk bersila di antara dua pohon beringin sambil memanjatkan doa-doa.
Foto: Edzan Raharjo/detikcom
|
Warga juga membawa gambar-gambar para sultan yang pernah memerintah Kasultanan Yogyakarta dari masa ke masa. Setelah itu, warga berjalan menuju depan pagelaran keraton.
Koordinator aksi, KH Abdul Muhaimin, mengatakan bahwa ritual tapa pepe ini untuk mendukung tetap tegaknya Paugeran Adat di keraton Yogyakarta. Mereka mengingatkan Sultan sebagai pengampu kebudayaan besar agar bisa memeliharanya untuk memberikan kesejahteraan pada rakyat.
"Kita berharap ada kesadaran dan kesepakatan dari keluarga Sultan untuk kembali pada paugeran adat yang sudah menjadi sejarah panjang. Kita mengingatkan dan mendoakan, tidak ada pretensi untuk melakukan perlawanan," kata Muhaimin.
Selain melakukan aksi, massa juga menegaskan akan mengajukan gugatan ke MK terkait Pasal 18 ayat 1 Undang Undang Keistimewaan (UUK) DIY. Ia mengaku telah memiliki fakta-fakta hukum yang valid yang diajukan dalam gugatan.
Keresahan warga terjadi karena paugeran adat keraton telah dilanggar. Seperti adanya sabda raja, perubahan nama Sultan dari Buwono menjadi Bawono dan adanya wacana sultan dari perempuan.

Foto: Edzan Raharjo/detikcom
Tidak ada komentar:
Posting Komentar