Minggu, 23 April 2017

Pemilihan Presiden Perancis Le Pen dan Macron Diprediksi Masuk Putaran Kedua

JakartaCNN Indonesia -- Politikus sayap ekstrem kanan Perancis, Marine Le Pen tampaknya bakal berhadapan dengan Emmanuel Macron, seorang liberalis, pada putaran kedua. Prediksi terhadap hasil pemungutan suara pemilihan presiden Perancis, Minggu (23/4), menunjukkan tak ada kandidat yang meraih suara mayoritas mutlak.  

Dilansir CNN, berdasarkan perhitungan awal BFMTV dan lembaga survei Elabe, Macron meraih 24 persen, diikuti Le Pen dengan 21,8 persen. Sedangkan Farcois Fillon dari konservatif diprediksi meraih 19,9 persen dan politikus dari sayap kiri, Jean-Luc Melenchon meraih 19,3 persen. 

Hasil kurang lebih sama terekam pada exit polls yang dilansir Washington Post. Kalau hasil ini terkonfirmasi pada perhitungan sebenarnya, maka ini adalah konfrontasi yang tajam antara pendukung globalisasi dan yang terang-terangan menolak.

Suasana gembira terekam di markas pemenangan Macron, politikus 39 tahun yang kalau menang, bakal menjadi presiden Perancis termuda dalam sejarah. 

“Ini adalah gempa bumi politik di negara ini dan Eropa,” kata veteran jurnalis, Christine Ockrent kepada CNN. “Ini pencapaian yang luar biasa, karena dia mewakili optimisme.” 

Menyikapi hasil exit polls yang tak berpihak padanya, kandidat presiden Fillon langsung menyatakan kekalahannya. Dia meminta rakyat berdiri di belakang Macron untuk mengalahkan Le Pen. Sebab, partai Front Nasional yang dipimpin Le Pen, kata Fillon, dikenal menyokong kekerasan dan intoleransi.

Le Pen sendiri sudah menyatakan, jika menang, dia akan mengeluarkan Perancis dari Uni Eropa. Dia juga berencana memperbaiki hubungan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Pilpres putaran pertama berlangsung dalam suasana tegang setelah terjadinya serangan teroris di Paris pada Kamis (20/4) malam. 

Pada pukul 17.00 waktu setempat, sebanyak 69,42 persen dari total 47 juta pemilik hak suara di Perancis sudah memberikan suaranya, berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri Perancis. Keikutsertaan pemilih ini lebih rendah ketimbang pilpres 2012.

Dengan adanya 11 kandidat, seperti diduga, takkan ada yang meraih suara mayoritas mutlak. Dua kandidat peraih suara terbanyak akan berhadapan pada putaran akhir pada 7 Mei mendatang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar